Minggu, 20 Januari 2008

KERJA SAMA PROYEK PEMERINTAH DAN LEMBAGA UNIVERSITAS CENDERAWASIH

Kerja sama proyek Pemerintah dan Lembaga Universitas Cenderawasih dalam membangun Sumber Daya Manusia pada setiap Kabupaten di Papua pada umumnya dan secara khusus Di Wilayah Kabupaten Boven Digoel, merupakan suatu bentuk penyimpangan dan tidak tepat sasaran dalam melayani kebutuhan masyarakat asli pribumi papua pada umumnya disetiap kabupaten –kabupaten di seluruh wilayah papua Barat dan secarah khusus di wilayah daerah kabupaten boven digul,terutama proyek yang sedang menjadi makanan empuk lembaga pendidikan tertinggi di papua adalah Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasi dan Pemerintah daerah kabupaten pada umumnya dan secarah khusus juga Pemerintah Propinsi Papua Barat.

Proyek yang selama ini menjadi gelutan pemerintah dan Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih, dalam hal ini membangun Sumber Daya Manusia, dengan membuka Program Kuliah Jarak Jauh disetiap daerah kabupaten seperti di Kabupaten Boven Digul, Kabupaten Merauke,Kabupaten Biak Numfor, dan masih banyak lagi penyimpangan yang dapat di implementasikan oleh kedua Lembaga tersebut, dilapangan adalah sudah bukan lagi memajukan Kwalitas Sumber Daya Manusia, tetapi malahan justru mematikan Kwalitas Sumber Daya Manusia, yang mana telah terjadi di Daerah Wilayah Kabupaten Boven Digul, dimana disana para Guru-Guru semua lari terjun bebas ke tiga ruang yang dibangun oleh kedua lembaga yakni Lembaga Organisasi Pemerintahan Daerah Kabupaten, dan Lembaga Organisasi Pemerintahan Daerah Propinsi Papua Barat, serta Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
Akibat dari sebuah pencaplokan secarah sistematis dan terorganisir ini telah melahirkan penurunan angka kwalitas sumber daya manusia, secarah perlahan-perlahan dan mematikan.Tanpa disadari para murid dikampung Mokbiran, Kawangtet, Distrik yang dipaksakan yakni Distrik Kombut, Kampung Amuan, serta sebagian dari Distrik Mindiptanah, Guru-Guru melepaskan jabatannya dan lebih suka mengikuti proyek pembodohan yang sedang dijalankan sebagai suatu lahan cari makan yang diciptakan atas kerja sama yang baik oleh kedua Lembaga Kejahatan tadi. Kampung-kampung yang dapat disebutkan/menjadi korban kepentingan tadi, adalah: fakta mengatakan bahwa para murid SD, disetiap kampung tadi, terlihat kehilangan guru-guru seperti ada murid, tetapi tidak ada Guru.
Hal ini seperti yang telah terungkap diatas adalah, para murid pagi hari pergi ke sekolah yang bentuknya seperti kandang ayam atau babi ini, para murid menungguh Guru-gurunya dari pagi hari hingga sore hari, tidak ada tanda-tanda satu batang hidung Guru-guru yang mau muncul dan memberikan pelajaran kepada mereka, sementara itu orang yang profesinya sebagai pengajar ini, lagi sibuk dengan ruang –ruang yang sengaja dibangun oleh Lembaga Universitas Cenderawasih dan Pemerintah Kabupaten serta Pemerintah Propinsi Papua. Sementara Guru-guru yang lagi rakus akan racun potas yang dibuang oleh kedua Lembaga Kejahatan tadi, semakin terhopnotis dengan proyek kejahatan, pembodohan, penipuan,dan masih banyak lagi proyek mematikan yang dirancang oleh Pemerintah Neokolonialis Indonesia.
Untuk membuktikan hal tersebut diatas adalah akan dijelaskan lebih lanjut dan lebih rinci kedepan yakni:

1. Kampung Kawangtet; Tidak ada guru dan Bangunan sekolahnya juga tidak ada, semua ini akibat permainan Pemerintah Neokolonialis Indonesia.
2. Kampung Amuan; Tidak ada Guru, tetapi Bangunan sekolahnya ada. Hal ini akibat Permainan orang-orang neokoloialis Indonesia, bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
3. Kampung Mokbiran; Tidak ada Guru, tetapi Bangunan Sekolahnya ada. Hal ini berkat kerja sama yang baik antara orang-orang neokolonialis Indonesia dengan Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
4. Distrik yang dipaksakan yakni Distrik Kombut; Bangunan sekolahnya tidak ada, juga Guru-gurunya tidak ada. Hal ini akibat kerjasama yang baik antara orang-orang neokolonialis Indonesia dengan Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
5. Kampung Umap; Tidak ada Guru-gurunya, Bangunan sekolahnya seperti kandang Babi dan Ayam. Hal ini akibat kerjasama yang baik antara orang –orang neokolonialis Indonesia dengan orang-orang neokolonialisme indonesia yang menyusup masuk dalam Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
6. Kampung Imko; Tidak ada guru-gurunya, Bangunan sekolahnya seperti Kuburan Tua. Hal ini akibat kerja sama yang baik antara Orang-orang neokolonialis Indonesia dengan orang – orang yang menyusup masuk dalam Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.

7. Kampung Tinggam; Guru-gurunya tidak ada, Bangunan Sekolahnya seperti Kuburan Tua. Hal Ini akibat kerja yang baik antara orang-orang neokolonialis Indonesia yang menjalankan sistimnya di Tanah Papua, dengan orang-orang Neokolonialis Indonesia yang menyusup masuk kedalam Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
8. Kampung Ogenetan; Guru-gurunya tidak ada,Bangunan Sekolahnya bolong-bolong, atap sengnya dibawah angin, karena bangunan tidak berkualitas, akibat proyek. Hal ini disebabkan karena kerja sama yang baik antara orang-orang neokolonialis Indonesia yang menjalankan sistim pemerintahannya ditanah papua, dengan orang –orang neokolonialis Indonesia yang melakukan penyusupan kedalam Lembaga Universitas Cenderawasih.
9. Kampung Golombon; Tidak ada Guru-gurunya,juga bangunan Sekolahnya. Hal ini disebabkan atas kerja sama yang baik antara orang-orang Neokolonialis Indonesia yang menjalankan sistimnya di Tanah Papua, dengan orang –orang neokolonialis Indonesia yang menyusup masuk kedalam Lembaga-lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
10. Kampung Osso; Guru-gurunya tidak ada, Bangunan sekolahnya sudah ditumbuhi rumput-rumput dan pepohonan. Hal ini disebabkan, atas kerja sama yang baik antara orang-orang neokolonialois Indonesia yang menjalankan sistim pemerintahannya di Tanah papua, dengan orang-orang Neokolonialis Indonesia yang menyusup masuk kedalam Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.
11. Kampung Mindiptanah; Sekolah SD INPRES Osso-Kamka (OSSKAM) yang duluhnya Guru-gurunya lengkap, tetapi karena pemekaran Guru-gurunya lari ke Kabupaten Boven Digul,disebabkan adanya proyek pembodohan yakni kuliah jarak jauh yang mana atas kerja sama yang baik antara orang-orang neokolonialis Indonesia yang menjalankan sistim pemerintahannya di Tanah Papua, dengan orang-orang neokolonialis Indonesia yang menyusup masuk kedalam Lembaga Pendidikan Universitas Cenderawasih.

Dari kesebelas poin diatas dapat menerangkan bahwa akibat dari program pembangunan kuliah jarak jauh yang dapat diimplementasikan, sama sekali jauh dari kebutuhan Masyarakat pribumi papua, malahan menambah kebodohan bagi generasi bangsa papua barat, penipuan, penghisapan, serta pembiaraan atas generasi papua, maka proyek pembangunan kuliah jarak jauh secarah akademis tidak bisa dikatakan baik, tetapi hal ini merupakan sebuah proses penipuan oleh pemerintah neokolonialis Indonesia terhadap Bangsa Papua Barat.
Maka demi tanah dan kekayaan alam kami yang dimanfaatkan oleh pemerintah Neokolonialis Indonesia sebaik-baiknya demi kepentingan dan kemakmuran rakyatnya yakni Jawa, Manado, Toraja, Batak, Makasar, Ambon, Key, yang memanfaatkan hasil kekayaan alam kami, dan berkembang biak untuk menguasai tanah dan hasil kekayaan kami, jelas pulah kami katakan bahwa Pemerintah Neokolonialis Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah Negara Konsumtif dan tidak bisa berbuat apa-apa. Indonesia boleh dikatakan sebagai negara yang tidak mampu membangun bangsa papua barat. Oleh karena itu patut kita ketahui dengan melihat ke-11 point ini dapat dikatakan sekali lagi bahwa Pemerintah Neokolonialis Indonesia sangat tidak mampu membangun bangsa papua barat, baik pembangunan Fisik maupun Sumber Daya Manusia.


“Jangan Takut, Kalau Itu Ada Dewah Penyelamat”

Yusakku-Marselku….yess!!!

Baca Selengkapnya.....